Memancing Ikan di Rantau Kasih – Part 2 Akhir Petualangan..

lanjutan dari tulisan sebelumnya..

Persiapan Joran

Jujur, saya baru pertama kali ini pergi dengan tujuan memancing dengan joran yang saya siapkan sendiri untuk pemakaian pribadi. Jadi, tidak salah kalau saya over kepo ketika bro Puja, Merry, Adik Merry dan Abang Merry yang sudah mulai mempersiapkan jorannya masing-masing.
Dengan dibuka tertawa cekikikan sambil ditahan-tahan, bro Puja membantu saya mempersiapkan joran. Mulai dari merakit joran, memasang pemberat dan memasang kail yang rupanya butuh trik ikatan tertentu supaya kail tidak lepas dari ikatan ketika bertugas di sungai nanti.

Persiapan Joran

Setelah masing-masing joran siap diajak bertugas, kami satu persatu mulai pergi menelusuri tepian sungai yang hanya berjarak lebih kurang 100 meter di belakang pondok mak Adang.

Memulai Fishing !

Masih ditemani hujan gerimis, kami mulai memasang umpan yang telah dipersiapkan sebelumnya oleh bro Puja, yak.. Cacing tanah!


Bertempat di atas toilet dan kamar mandi yang mengapung di tepi sungai, cacing mulai disematkan ke mata kail masing-masing joran dibantu oleh bro Puja dan Adik Merry.. terus saya tak ikutan masang umpan? hhe, sudah semenjak tamat dari sltp saya tidak pernah bersentuhan lagi dengan yang namanya cacing, berapa kalipun mencoba saya tetap tidak mampu menahan rasa geli dan jijik ketika memasang umpan ke mata kail:mrgreen: .
Adik Merry yang sedari tadi sudah duluan memasang umpan di jorannya sudah menghilang dari pandangan, rupanya si bro satu ini sudah menemukan tempat spot tepian sungai yang pas.
Bro Puja pun berangsur memencar mencari spot pemancingan, begitu juga Merry. Sementara saya masih bingung haha!
Saya akhirnya memutuskan untuk mengambil jarak lebih kurang 50 meter dari mereka dan melontarkan kail ke sungai dengan gerakan melontar yang baru pagi itu juga saya pelajari:mrgreen: .
Kondisi sungai hari itu rupanya ‘pasang’, air sungai naik sehingga arus lebih deras dari biasanya. Satu persatu sampah plastik mulai terlihar dibawa arus sungai menghiasi konsentrasi kami terhadap sambaran ikan terhadap kail masing-masing.
Hujan gerimis masih setia menemani kami memancing, beruntung bro Puja dengan topi rimbanya terlihat lebih santai karena kelopak mata aman dari serangan gerimis hujan, sementara kami sibuk menyeka serangan air hujan gerimis yang menerpa kelopak mata:mrgreen: .
Waktu berlalu beberapa puluh menit ke depan, belum ada yang berhasil mendapatkan ikan. Begitupun dengan saya, beberapa kali terasa disambar ikan.. beberapa kali terasa disambar rupanya pe-ha-pe:mrgreen: hanya perasaan saja, beberapa kali terasa disambar rupanya sampah plastik dan beberapa kali terasa disambar rupanya umpan telah habis sehingga tinggal kailnya saja:mrgreen: .
Abang Merry pun mengajak Merry menjala dengan menggunakan perahu. Sementara kami tetap bertukar-tukar tempat dan mencoba tempat baru untuk melempar umpan.
Dari Hujan gerimis hingga bergantian dengan matahari yang mulai menunjukkan sengatan siang harinya.. hanya bro Puja yang mendapatkan ikan 2 ekor !

Bro Puja berpose dengan ikan hasil pancingannya.

Bro Puja berpose dengan ikan hasil pancingannya.

Hingga siang menghampiri dengan sinar matahari teriknya, Merry dan si Abang akhirnya kembali dan membawa lumayan banyak ikan hasil menjala.

Merry dengan ikan hasil menjala.

Merry dengan ikan hasil menjala.

Kegiatan memancing yang menguras kesabaran akhirnya kami hentikan dan mulai bersama-sama membersihkan semua ikan yang didapat.

Membersihkan Ikan 2

Membersihkan Ikan 3

Membersihkan Ikan 4

Membersihkan Ikan 1

Setelah ikan berhasil dibersihkan, kami pergi menuju bukit pasir yang lumayan tinggi dan berjarak sangat dekat dari lokasi pemancingan kami.

Bukit Pasir

Bro Puja dan Merry dengan sigap mengambil arang dengan bara api yang masih menyala dari pondok diikuti Merry dengan membawa nasi dan perlengkapan memasak lainnya.

Memasak ikan dimulai !

Dibawah pohon kecil kami menggelar acara bakar ikan. Dengan berbekal bara api yang masih menyala kami mulai mengumpukan ranting kayu di semak-semak sekitar.
Setelah persiapan lengkap acara bakar-bakar ikan dilaksanakan dengan hikmat dengan ditemani mata merah disertai air mata yang mengalir secara tidak sengaja akibat asap pembakaran ikan.

Bakar Ikan

Untuk jepitan ikan, kami mengambil ranting-ranting yang masih segar dan bambu-bambu mini yang terdapat di semak-semak, untuk pengikatnya kami menggunakan batang-batang kecil dari semak-semak yang terdapat di sekitar.. kreatif:mrgreen: .
Ikan dibolak-balik ketika proses pembakaran dilakukan dengan tujuan supaya daging ikan matang merata dan daging ikan tidak gosong. Walaupun begitu, kami masih menjumpai kulit ikan yang gosong:mrgreen: , so beginner..!
Selesai pembakaran ikan, kami beranjak ke puncak gundukan pasir raksasa ini, dan menghidangkan segala sesuatunya yang perlu untuk mengisi perut yang sudah keroncongan sedari pagi.
Tunggu dulu, ada menu baru yang baru pertama kali saya jumpai ketika makan kali ini.. namanya ‘rotan’, iya rebusan rotan. Bentuknya seperti lilin putih kalau dilihat sekilas.

Penampakan Rotan

Setelah setiap piring diisi nasi dan ikan pilihan masing-masing, dengan sigap si Abang memotong rotan tersebut dan meletakkan potongan kecilnya ke dalam piring.. tak lama setelah itu si Abang memakan ikan dan nasi ditemani rotan yang telah dipotong tadi dengan lahap.

Jpeg

Jpeg

Jebakan Pertama

Sayapun tergerak untuk mencoba rotan ini, di dalam hati berfikir bahwa rotan ini akan seenak jengkol yang sudah direbus..
Sayapun dengan tanpa ragu mencoba rebus rotan tersebut dan… luar biasa..! Pahit bro!
Dan mood makan saya berkurang sekian persen:mrgreen: ..
Cekikikan pun mulai terdengar lagi dari mulut teman-teman.

Jebakan Kedua

Sembari mengembalikan mood makan, saya tertarik akan sambal cabe hijau yang digiling kasar yang terletak di tengah hidangan.Sayapun langsung mengambil sambal cabe hijau tersebut satu sendok makan sebagai teman makan saya di siang itu.

Makan 2

Tanpa ragu saya kembali menyuap nasi plus daging ikan ditemani sambal cabe hijau tadi dengan harapan selera makan akan meningkat.
Tanpa diduga inilah jebakan kedua yang menimpa saya, cabe hijau tersebut bukanlah diperuntukkan untuk lidah saya! pedas luar biasa!
Air minumpun menjadi target! sambil menggeleng-geleng dan ucapan “Haaaaahhhhh!!!!!.. “ dari mulut saya sembari menahan pedas dan berharap pedas ini akan secepatnya berakhir.

Berendam

Setelah selesai makan ditemani jebakan dan membereskan semua perlengkapan, kami menuju tepi sungai dan berendam.. saya dan bro Puja yang tidak bisa berenang cuma sangup berendam di tepian saja:mrgreen: , arus sungainya masih deras bro !
Rupanya air sungai sangat dingin, jauh berbeda dengan terik cuaca di siang itu, jadilah.. tak dapat ikan sejuknya air sungaipun jadi:mrgreen: .

Perjalanan Pulang

Setelah berkemas kembali kami berpamitan dengan mak Adang. Dengan harapan pribadi besok saya bisa ke sini lagi dengan kondisi sungai yang surut dan dengan peruntungan yang lebih bagus lagi haha!

Thanks for Reading😀

Categories: Full Indonesia, Full Pekanbaru, Jelajah Nusantara, Provinsi Riau, Sepeda Motor, Unik | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Memancing Ikan di Rantau Kasih – Part 2 Akhir Petualangan..

  1. Kangen sambelnya euy… hohah… heheheh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: