Menggapai Air Terjun Lubuk Bigau a.k.a Air Terjun Pangkalan Kapas (Artepak) Part 2

Petualangan dimulai ..

Keberangkatan

Kelanjutan dari artikel sebelumnya klik di sini

Sekitar jam 12 – 1 lewat kami mulai berangkat dari rumah Mery menuju lokasi. Sebelum menuju lokasi, selain memeriksa ketersediaan logistik dan membeli dan mengisi jerigen ukuran 5 liter dengan bensin di spbu lipat kain, kami juga menyempatkan diri mengisi perut terlebih dahulu di ampera tedekat di lipat kain.

Desa Lubuk Bigau yang kami tuju terletak di dekat perbatasan provinsi Riau dan Sumatera Barat, masih area Kabupaten Kampar (Kampar Kiri). Dari Lipat Kain, berdasarkan info dari berbagai sumber dibutuhkan waktu lebih kurang 5 jam untuk mencapai desa Lubuk Bigau ini karena track menuju ke sana sulit.

Perut sudah terisi, jerigen 5 liter sudah terisi untuk masing-masing motor,  logistik sudah cukup. Perjalanan pun dimulai dengan membaca do’a di hati masing-masing agar diberi keselamatan selama di perjalanan pergi dan pulang kembali.

Dari lipat kain menuju teluk kuantan kami memulai perjalanan dengan rasa penasaran di hati, tentang track yang akan dilalui.. rintangan selama perjalanan.. dan bentuk dari air terjun yang akan dituju. Semuanya penasaran, karena tidak satupun dari kami yang sudah pernah sampai ke sana sebelumnya.

Simpang tiga pertama yang kami temui selepas lipat kain adalah awal dari perjalanan masuk ke lokasi yang kami tuju, belok ke kanan (kalau ke kiri artinya kita akan menemui jembatan yang mengarah ke teluk kuantan).

Dari sini kami disuguhi kelok jalan yang lumayan ekstrim menurut saya jika dilakukan dengan kecepatan tinggi, ada sekitar 10 tikungan kalau tidak salah.. lupa menghitung:mrgreen: . Jalanan masih diaspal hingga  kami menjumpai jalan yang bercabang dua, jika belok ke kanan menuju lokasi air terjun.. jika ke kiri kami menuju daerah bernama Gema (ada air terjun juga di sana, tapi fokus kami ke air terjun lubuk bigau terlebih dahulu).

Beberapa ratus meter melewati percabangan jalanan masih diaspal, tidak terlalu jauh selepas jalan bercabang kami mulai menghadapi jalan tanah bercampur batu, dari sini jalan masih terbilang aman, karena jalanan masih agak rata dan kering walaupun belum dilapisi aspal, menjelang sampai di pemberhentian pertama kami  disuguhi jalan yang sudah dilapisi beton yang putus-putus, keren:mrgreen: .

Perjalanan Di mulai

Sampai di pemberhentian pertama kami istirahat sebentar sembari memeriksa kondisi sepeda motor di sebuah pondok (ciri khas beratapkan daun hijau, lihat foto di bawah ini) seperti tempat jualan lontong dan pecal, tapi sudah tutup karena kami sampai di sana siang menjelang sore. Di sini kami melepas dahaga dan memulihkan tenaga yang sedikit terkuras. Dan Tety pun beraksi dengan handycam yang sudah disiapkan sebelumnya, “my trip my adventure !” selalu terucap dari bibir Tety and friends (Enong dan Fitri) selama perjalanan hingga sampai di pemberhentian pertama sembari mengoperasikan handycam.

Pos Pertama Pemberhentian, kami berteduh di pondok yang atapnya dilapisi daun hijau..

Pos Pertama Pemberhentian, kami berteduh di pondok yang atapnya dilapisi daun hijau..

Setelah dirasa cukup, kami melanjutkan perjalanan. Dari pemberhentian di desa yang saya lupa namanya ini:mrgreen: kami belok ke arah kiri dan disuguhi jalanan yang sudah dilapisi beton dengan panjang lebih dari 2 kilometer, atau lebih panjang lagi. Dalam hati bergumam “semoga jalanan yang kami lalui seperti ini terus sampai desa tujuan..” haha mengharap betul !

Sebelum jalanan beton habis, rupanya ada tikungan menurun yang lumayan curam hingga ujung turunan jalanan beton pun habis dan disambut jalan tanah kembali. Dari sini kekejaman track mulai kami jumpai, tantangan pertama ada tanjakan panjang yang dihiasi dengan cekungan-cekungan yang harus dihindari jika ingin sampai ke atas.. karena jika ban terselip ke dalam cekungan tersebut maka ban akan terperangkap dan penumpang harus turun dan sepeda motor diatur lagi ke pijakan semula.. capek dan ribet haha tapi seru ! intinya harus berkonsentrasi penuh. Selain harus menghindari cekungan-cekungan pendakian, pengendara sepeda motor juga harus mengatur posisi agar ban depan sepeda motor tidak terangkat yang nantinya akan mengakibatkan sepeda motor terjungkir dan membahayakan pengendara dan boncengan, saya sendiri sering merasakan ban depan terangkat sedikit ketika melewati pendakian yang lumayan ganas, tapi.. tidak ada guru yang lebih baik dibanding pengalaman.. saya belajar dan saya mendapatkan trik secara otodidak ! yap, dikarenakan saya membawa boncengan.. maka saya harus memberatkan diri ke depan supaya ban tidak terangkat dan.. berhasil ! selama perjalanan yang melewati pendakian tidak rata.. ban depan tetap stabil😀, yeah !

Beberapa menit hingga jam ke depan, hujan mulai mengguyur.. dan hebatnya saya dan boncengan tidak membawa mantel satupun ! sementara teman-teman lain membawa mantel.. minimal satu mantel satu motor. Kamipun melanjutkan perjalanan di tengah guyuran hujan sembari melihat ke kiri kanan hutan yang kami lalui dengan harapan menjumpai rumah atau pondok yang bisa dijadikan tempat berteduh. Pucuk dicinta ulam pun tiba ! kami menjumpai sebuah rumah yang terlihat tidak dihuni dengan teras yang lumayan lebar, oke.. kami dan beberapa rombongan sepeda motor di barisan belakang pun berteduh.

Sembari berteduh cemilan pun dikeluarkan dari tas. Kami ngobrol-ngobrol berharap hujan mereda, satu menit dua menit.. sepuluh menit dua puluh menit.. ondeh mandeh.. hujan tidak berhenti jg ! sampai-sampai saya bisa tertidur sebentar ! tidak bisa ditahan lagi, daripada menunggu sampai malam saya memutuskan mengajak rombongan untuk melanjutkan perjalanan, walaupun masih gerimis hingga akhirnya kami menemui rombongan yang sudah duluan dan berteduh di desa berikutnya. Dari sini satu persatu rombongan mulai terjatuh dari motor akibat tanah yang sudah basah dan masih terguyur gerimis hujan, bro Rizaldi.. disusul bro Matin.. yang terlihat jelas di depan mata, mungkin yang lain ada juga yang terjatuh.

Di dalam lanjutan perjalanan kali ini kami menjumpai tanjakan lagi, dikarenakan hujan baru saja mengguyur.. mau tidak mau boncengan bahkan sayapun harus turun dari sepeda motor untuk menanjak.. so excited !

Inilah bentuk ban sepeda motor selepas jalan diguyuri hujan.

Kondisi ban depan selama trek mulai basah

kondisi ban bro Aceng

Ini kondisi ban belakang shogun 125 sebelum kolong dipenuhi lumpur.

Kondisi ban belakang sebelum dipenuhi lumpur

Dan inilah bentuk alas kaki saya

Alas kaki petualang

                Oke ! lanjut ! lanjut !

Perjalananpun dilanjutkan lagi meskipun hari sudah mulai memasuki senja. Di saat menyelesaikan suatu tanjakan ekstrim kembali.. kami berjumpa dan mengobrol dengan seorang bapak-bapak yang berlawanan arah dengan kami, saya bertanya mengenai sisa jarak dan waktu untuk mencapai Desa Lubuk Bigau..

bapo jauo gak a le sampai di desa lubuok bigau pak ? lamo gak a le ?”
artinya “berapa jauh lagi bisa sampai di desa lubuk bigau ? masih lama kah ?”
itulah yang saya tanyakan kepada bapak tersebut,

nde, baliok jo la kolian lu, nginap ajo di desa sabolum pendakion iko, suok pagi bau dilanjuikkan liok
artinya “kalian lebih baik kembali dan menginap di desa sebelum pendakian ini, besok pagi baru dilanjutkan lagi”
jawab sang bapak,

nyo dek apo pak ? bapo lamo le kami bisa sampai di desa ?
artinya “emang kenapa pak ? berapa lama lagi kami bisa sampai di desa ?
saya menayakan kembali,

kalau jalan elok, bisalah sajam, tapi ayi bau ujan, malam gak a kolian bau bisa sampai, kalau kalian angsu juo le, batamba para jalan le dek ujan tadi
artinya “kalau jalan bagus, bisa 1 jam, tapi baru habis hujan, kemungkinan kalian sampai malam, kalau kalian tetap jalan, maka jalanan di depan akan lebih parah lagi gara-gara hujan barusan”
jawab sang bapak kembali.

Wah, mulai khawatir, setelah berembuk singkat sembari membantu teman yang lainnnya mendaki tanjakan maka diputuskan untuk tetap lanjut, anggota saja masih semangat ! masa sampai di sini saja.. haha keren !

Tidak lama setelah perjalanan dilanjutkan dengan track yang luar biasa hard level buat kelas bebek, kami  berjumpa jalanan cekung dan lebar yang rupanya telah menjadi sungai setinggi pinggang diakibatkan hujan sebelumnya. Sepeda motor kami parkir di tepi sungai sambil berharap sungai surut secepatnya.

Ditunggu selama satu jam atau hampir dan lebih dari dua jam sungai hanya surut sedikit, kami sangat khawatir.. “mau sampai jam berapa ini ?” gumam saya di dalam hati.. “sementara hari semakin gelap dan kami sedang benar-benar berada di tengah hutan belantara.. !” Saya mencoba menyeberangi sungai sendiri tanpa sepeda motor.. hasilnya saya terendam hingga hampir mencapai pinggang, dan arusnya lumayan deras ! utung tidak hanyut haha banyak gaya !:mrgreen:

Dari Kejauhan terdengar bunyi sepeda motor disertai sorotan lampu sepeda motor dari kejauhan dan perlahan-lahan mendekat, oh ! rupanya ada abang-abang yang juga ingin melintasi sungai tersebut, kami mengobrol sebentar sembari menunggu air surut. Dari obrolan rupanya rombongan abang-abang ini ingin menuju ke sumbar melewati jalur ini, bisa dibilang mereka rutin melewati jalur ini sendiri ataupun bersama dengan rombongan mereka. Salah satu dari mereka biasa berjualan dengan keranjang di belakang sepeda motor melewati jalur ini, apa yang dijual ? jagung rebus.. waw salut.. sepeda motor yang mereka gunakan juga merupakan sepeda motor type bebek. Dan selebihnya lagi ada yang menuju desa terdekat.. ya desa lubuk bigau !

Dan mereka juga tidak sabar untuk menunggu sungai surut:mrgreen: apalagi kami. Salah seorang dari rombongan abang-abang ini mulai menyusuri semak di sekitar sungai dan mencari dua batang kayu ukuran sebesar lengan sepanjang satu meter masing-masingnya, rupanya abang-abang ini mempunyai rencana untuk menopang sepeda motor mereka  menggunakan kayu tersebut di bahu untuk menyeberangi sungai. Keren ! kreatif !

Dua kayu tersebut dilintangkan di masing-masing roda dan diangkat dengan bahu oleh 4 orang. Sayapun tidak mau tinggal diam.. langsung saya ambil posisi untuk ikut mengangkat sepeda motor mereka.. untung-untung sepeda motor kami juga dibantu juga untuk melewati sungai ini:mrgreen: . Dan benar saja, abang-abang ini ikut menyeberangkan sepeda motor kami juga setelahnya😀 .. modus success !!

Setelah menyeberangi sungai, rupanya sebagian abang-abang ini bersedia beriringan dengan kami menuju desa lubuk bigau, Alhamdulillah ..😀

Tapi yang namanya sudah terbiasa dengan jalur di hutan ini tentu lebih professional.. bagaimanapun skill kami kerahkan abang-abang ini tetap berada jauh di depan kami..

Tetapi ketika di tengah jalan, ada sesuatu yang membuat kami khawatir.. tapi kondisi kami juga sangat susah.. track susah ! sementara para cewek sudah kelelahan !.. dan ini dia, abang-abang yang baru kami kenal ketika melintasi sungai barusan menawarkan bantuan untuk membawa satu.. dua.. cewek ke desa terdekat karena sudah kelelahan .. kami khawatir ! “Saya takut kalau terjadi apa-apa nanti kepiye? Ini hutan belantara je.. tidak ada kantor polisi“ begitulah kira-kira yang diucapkan bro Puja.

Akan tetapi mau bagaimana lagi, kondisi stamina cewek sangat tidak mendukung untuk tetap kami bonceng, Enong yang pertama dibawa.. khawatir.. jelas ! dan berikutnya ada lagi yang dibawa.. kekhawatiran sekamin memuncak sementara bro Puja berusaha mengikuti abang tersebut, tapi tidak terkejar sama sekali.. hampir jatuh yang didapat. Kami hanya bisa berdoa supaya semuanya selalu diberi keselamatan.

Sehabis melewati sungai dan melewati track berikutnya sepeda motor saya menemukan kendala yang sangat menjengkelkan, jangankan untuk ikut mengejar para abang yang telah membantu membawa teman cewek kami.. saya selalu berada di posisi paling belakang rombongan.. menjengkelkan ! saya berteriak ! saya khawatir ! mata berair saking kecewanya dengan kondisi saat ini ! kolong roda belakang sepeda motor saya dipenuhi oleh lumpur dan kerikil kecil karena jarak antara swing arm/lengan ayun mepet sekali dengan ban.. jangankan untuk mengejar rombongan di depan, roda tidak berputar lagi walaupun dengan gigi 1 tetap tidak bisa.. klep banting !

Jarak ban belakang new shogun 125 dengan batas lengan ayun

Gambar kolong belakang shogun 125

Sangat wajar bila lumpur sangat mudah mengumpul di sini, hanya setengah centimeter saja jarak dari permukaan ban dengan lengan ayun.

berkali-kali saya keruk berkali-kali pula lumpur kembali memasuki kolong ban belakang tersebut.. pakai kayu.. bahkan pakai tangan.. tidak peduli ujung jari sudah mulai terluka.. menjengkelkan sekali ! Sementara sepeda motor lain tidak ada yang menemui kendala seperti yang saya alami, termasuk mio tentunya.

Akhirnya dengan berangsur-angsur saya dan teman yang rela mengiringi saya hingga berhasil sampai ke desa Lubuk Bigau walaupun jalan yang kami tempuh saat itu lumayan jauh dan dengan kendala yang sama.. kolong ban belakang sepeda motor selalu dipenuhi lumpur. So proud to be your friend guys ! soo solid !

Untuk hari ini cukup sekian dulu, nantikan artikel kelanjutnya :mrgreen: .

Thanks for Reading😀

Categories: Full Indonesia, Jelajah Nusantara, Provinsi Riau, Sepeda Motor, Unik | 3 Komentar

Navigasi pos

3 thoughts on “Menggapai Air Terjun Lubuk Bigau a.k.a Air Terjun Pangkalan Kapas (Artepak) Part 2

  1. Saya nunggu ntu jalanan diaspal deh atau nunggu punya motir trail untuk kesana….

  2. Ping-balik: Menggapai Air Terjun Lubuk Bigau a.k.a Air Terjun Pangkalan Kapas (Artepak) Part 3 | Azul's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: